Jumat, 27 Januari 2017

Ulama dalam Islam

Ulama terdapat pada (QS:35 ayat 28-29) ulama itu bentuk jamak dari kata Alim Jadi kalau Alim itu masih tunggal sifatnya.
Ulama di ukurannya bukan pintar saja, yang pintar itu banyak, sifat yang paling dominan pada ulama yaitu memiliki sifat "KHASYAH"
Ciri-ciri ulama itu yang paling dominan yaitu " YAKHSYALLAHA", dia punya rasa takut yang dalam kepada ALLAH, jd KHASYAH itu rasa takut yang dalam kepada ALLAH.
Jadi nggak sembarangan ya Jadi kalau bicara dia nggak sembarangan bicara dia akan lihat apakah pembicaraan diridhoi ALLAH atau tidak, kemudian, kalau ingin memberikan fatwa, Dia nggak akan sembarangan, kadang istikharah dulu, Doa dulu, bukan karena fatwanya, tapi karena Allah Ridha nggak dengan fatwanya, jadi nggak sembarangan dalam bicara.

Sekarang banyak orang bicara tentang Al Maidah ayat 51, belum tentu yang banyak komentar itu, pernah lihat ayatnya, belum tentu itu. Barangkali belum buka mushaf, ya rame aja, Al Maidah ayat 51, Al Maidah ayat 51.
Alhamdulillah, Allah Tampilkan di lisan setiap orang.

Reporter TV bicara Al Maidah 51, itu belum tentu baca juga, non muslim bicara Al Maidah 51, Alhamdulillah! setiap lisan bicara, tinggal kitanya, diambil nggak itu Petunjuk?, bahkan tukang kaos pun nulis Al Maidah 51, macam-macam itu, semua ada, itu syia'r, syia'r kebaikan yang Allah Tanamkan dalam setiap tanda.
Jadi kalau Anda, maaf ya, diturunkan Allah 1 ayat, untuk mendekatkan anda dengan energi Qur'an, supaya Anda kembali pada tuntunan Allah. Masih juga tidak Acuh dan abai, harus dengan cara apa lagi harus berapa ayat lagi? Agar anda sadar.

disebutkan ada tiga sifat penyampai kebaikan;

(1) Mubaligh
Mubaligh itu artinya "PENYAMPAI"/ yang menyampaikan sesuatu, pesan yang disampaikannya disebut TABLIGH.

Misal anda ketika pulang belajar ttg Tuntunan shalat yg benar misal, kemudian menyampaikan pesan pesan tersebut kepada keluarga atau teman-teman terkait, maka seketika, anda menjadi mubaligh, dan tidak harus pakai peci dulu, Koko dulu ya, Kecuali dalam konteks tertentu ya.

(2) Da'i
Anda sudah mengajak orang, kalau sudah mengajak pada kebaikan maka berubah menjadi Da'i namanya, dan sifatnya disebut dakwah.
Mubaligh beda dengan Dai, kalau Mubaligh, tidak disyaratkan Dia memiliki ilmu khusus untuk menguasai materi
yang disampaikan, yang penting di share pada orang, itu sudah Tabligh namanya, dan dia mendapatkan pahala kebaikan dari situ terdapat pada (HR. Muslim nomor hadis 1893).

Yang mana isinya, Siapa yang menunjukkan suatu kebaikan, kemudian diamalkan oleh orang lain, maka penunjuk ini mendapatkan pahala serupa dengan yang mengamalkan, tanpa dikurangi sedikitpun.

Ini Aneh ya, kalau anda bisa berbuat yang baik-baik, kenapa menulis yang tidak bermanfaat?. Anda bisa Tuliskan yang baik-baik, misal, waktu sholat sekarang  sekitaran Cibiru atau Bandung, Shubuh-nya jam sekian, Dzuhur-nya jam sekian, sampai Isya jam sekian. Itu teman Anda, begitu melihat pesan yang anda tampilkan "Oh iya, saya belum sholat", lalu dia sholat, begitu dia shalat, anda mendapatkan pahala sholatnya tanpa dikurangi sedikitpun.

Jadi, jika anda bisa menulis yang baik-baik, ngapain nulis yg Nggak bermanfaat?, "Duh mendung, duh laper, duh capek" ,  terus kirim, nggak ada kerjaan kan?.

Apalagi nulis yang tidak benar, lihat teman agak beda sedikit, jalan gak nyapa, terus Anda tulis status. Kenapa sih harus curhat kepada orang yang tidak ada urusannya dengan anda?,Kalau anda punya masalah dengan orang tertentu, itu  langsung pada orangnya.
Anda lewat, teman lewat, nggak nyapa Anda, Anda bisa tegur kan? "Assalamualaikum ukhti, kok buru-buru? Daripada anda prasangka yang tidak baik, kan enak kalau seperti itu.

Anda nulis ya," Nggak nyangka dia seperti itu", itu anda sedang NYANGKA itu!.

Terus selanjutnya, Da'i itu kalau ngajak minimal punya ilmu dakwah, walaupun ilmu tentang fiqhnya itu belum dalam.

Jadi syarat Da'i kalau Ngajak orang;

(1) Anda memahami esensi orang yang anda ajak

Misal, Anda ajak orang ke masjid, hal pertama yang harus anda lakukan, anda harus tahu dulu kemuliaan tentang Masjid , baru setelah itu, anda belajar cara mengajak orang lain supaya diterima dengan nyaman, dan dia senang menunaikannya. Terdapat pada (QS:16:125). Jadi kalau belum tahu caranya, lebih baik diam dulu.

Yang pertama itu HIKMAH dulu, pesan itu nomor 2.

Hikmah itu punya dua arti;

(1) Adanya kesesuaian, antara perilaku dan perkataan, Jadi kalau anda ingin ajak orang, anda praktekan dulu, perbaiki diri dulu.
(2) Hikmah itu menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadar nya, jadi beda, Ketika kita menyampaikan sesuatu pada teman-teman kita misalnya, yang berprofesi sebagai pedagang, dengan teman-teman kita yang mungkin ada di jabatan-jabatan tertentu, itu cara bicara kita sudah lain kan?, nggak bisa disamakan.
Misal, anda jadi imam ingin membenarkan shaf, anda harus melihat makmumnya siapa, membenarkan anak kecil dan orang dewasa itu beda caranya.

(3) Alim
Kalau mubaligh dan Dai itu belum ditanya hukum, karena ilmunya hanya untuk mengajak orang, bukan memberikan fatwa. Jadi kalau mau tanya hukum Jangan tanya Da'i atau Mubaligh, bertanyalah hukum itu pada A'lim jamaknya U'lama.

Syarat 'Ulama :

(1) Ilmu Pengetahuan
Harus punya ilmu dulu, itu pasti ya.
(2) Punya sifat Khasyah (Ketakutan yang dalam hanya kepada Allah)

Alim bisa menempatkan ilmu sesuai ridhonya Allah, jadi teman-teman, jangan sembarangan ya, minta pada orang-orang yang mohon maaf, kredibilitasnya saja meragukan, maaf, memang pintar dia dengan Alquran, hadist, ayatnya nomornya, tapi perilaku kesehariannya, tidak membuat kita yakin dia dekat dengan Allah, kata-katanya sering kontroversial, tindakannya kadang-kadang membingungkan, itu jangan dijadikan rujukan, itu berbahaya karena itu, Nabi pernah mengingatkan pada kita akan hadist, terdapat pada (HR. Muslim Nomor 64 halaman 3 paling kiri sebelah atas jilid 1 Dari Abu Hurairah r.a)

Yaitu isi hadistnya, akan muncul di akhir zaman nanti "Dajjaluna Kazzabun" yaitu orang-orang pintar yang sering berdusta, dia akan berbicara pada Anda tentang konsep agama yang membuat Anda kaget, jangankan Anda, orang dulu pun bisa ikutan kaget.

Pernah tiba-tiba ada orang yang bicara, "semua agama itu sama, mempunyai Tuhan yang sama, tapi caranya beda-beda", tiba-tiba juga ada yang mengatakan "al-Maidah itu bukan seperti itu, tapi kesini maknanya" .

Bahasa Nabi tegas sekali, "hati-hati anda dengan mereka, dan mereka itu musuh yg paling bahaya", bukan orangnya, tapi pemikirannya, sikapnya, sifatnya, itu yang bahaya jadi hati-hatilah dalam mengambil rujukan tentang konsep Agama.

Diantara ulama itu ada yang sifatnya Da'i, dan ada ulama yang juga bisa sifatnya menyampaikan atau mubaligh, tapi tidak sedikit juga ulama ini yang mungkin punya keterbatasan dalam menyampaikan sehingga umatnya yang datang kepada ulama tersebut.

Kata ulama itu dibagi 4 bagian;

(1) Ada Ulama Air Hujan,  datang ke mana saja, jangankan bunga yang bagus, rumput pun, dia datangi juga, dalam menyampaikan dakwah dia tidak pilih-pilih jamaah.
(2) Ulama yg seperti mata air, mata air itu nggak bisa pergi, tapi orang datang ke situ mengambil manfaat.
(3) Ulama Air PAM, jadi maaf, kalau nggak dibayar gak keluar itu airnya, Ulama tarifan, terdapat pada (QS: 74 ayat 1-7)
(4) Ulama air Mata, Hanya membuat kita menangis lihat perilakunya,  belum ngajar kita aja, kita udah gak enak, dan yang seperti ini kita doakan, bukan dicela, mendoakan supaya jadi lebih baik Minimal dia bertaubat di akhir hayatnya.

1 komentar: