Minggu, 29 Januari 2017

Neraka Tanpa Hisab

Neraka Tanpa Hisab

Pernah dengar istilah ini, masuk surga tanpa hisab? sering kita dengar, anda mesti dengar masuk neraka tanpa hisab, masuk neraka tanpa hisab, saking "cepatnya masuknya" di dalam Quran surah 18 Al Kahfi ayat 100 sampai 101 posisi paling kiri sebelah atas ke pertengahan.

Jadi orang-orang yang masuk neraka ini yang cepat sekali tanpa hisab itu bukan neraka biasa, kalau Neraka biasa masih ada amal baiknya mau cari-cari sampe sunnah-sunnahnya begitu tidak ketemu, banyak amal jeleknya, salahnya, sudah, neraka dia.

Tapi Neraka Jahannam untuk orang-orang seperti ini.

Proses di hari kiamat nanti kita akan saksikan sendiri, saat orang mulai melihat ada orang yang cepat melalui shiratnya maka cepat masuk surganya ada yang menerima kitab nya sebelah kanan senangnya, ada yang dari belakang punggungnya,
Dia merasakan ketakutan luar biasa tiba-tiba ada orang yang tegang luar biasa, "saya nanti Di mana ya? kitab saya di kanan, di kiri atau di belakang ya?

tiba-tiba ayatnya turun, "Udah kamu nggak usah banyak mikir, tempat kamu disini nih neraka Jahanam, langsung masuk aja, capek kalau dipikirin juga, pada saat itu ketika orang sibuk memikirkan hisab ditampilkan pada golongan ahli neraka jahanam tempat kamu kan di sini, nggak usah banyak mikir.

siapa orang-orang ini? ayat 101 nya bukan cuma orang-orang kafir, orang-orang tidak beriman saja, tapi orang-orang beriman juga yang sulitnya luar biasa, orang-orang yg matanya sulit sekali mendapatkan petunjuk Allah.
Bahkan telinganya sulit dengar itu, ada orang mengatakan saya Islam, dengar Adzan, Allahu Akbar Allahu Akbar, ada orang masih telat, yg ini malah marah marah, "kenapa adzan dekat rumah saya?"

Dipanggil lewat panggilan belum mau juga, saking sayangnya Allah, Allah tidak akan membiarkan seorang hamba kembali ke akhirat kecuali ia sudah mendapatkan petunjuk sampai ke puncaknya, kalau telinga nya ga bisa dengar, barangkali matanya masih bisa liat, dia belum mau ke Mesjid, tiba-tiba diliatkan di depan matanya orang berangkat, mulai dari orang tua, anak-anak, orang sudah mulai masuk Mesjid, dia masih betulin mobil..

Mulai lewat, "pak, Assalamu’alaikum","Wa'alaikumsalam" tetap aja ga diliat, masih saja sibuk dengan dunianya, sampai ke anak kecil "om, Mesjid yuk?," udah nanti aja, "om nyusul"

Orang-orang seperti ini, yang sulit diingatkan saat didunia, langsung disebutkan, udah, Neraka Jahannam.

KALAU DIA TIDAK BERTAUBAT SELAMA HIDUPNYA.

2 Golongan Manusia Ketika Menunaikan Shalat

Saya ingin Ingatkan satu hal kaidah yang sangat penting sekali, terdapat pada Al-Qur’an, setiap orang yang telah menunaikan sholat itu oleh Al Qur’an dibagi pada dua golongan, dan perhatikan sampai pada siang ini, anda berada di golongan mana. Terdapat pada Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 103;

"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa': Ayat 103)

Maka jika sholat telah tuntas Anda tunaikan, Kalau anda berhenti membaca disini, waqaf di ayat ini, Maka itu menunjuk pada golongan yang pertama, kata para ulama, ini menunjuk pada golongan yang pertama, ada orang yang shalat sekedar menuntaskan kewajiban saja, jadi maaf, Ada motif orang sholat, yang penting saya sudah sholat, perkara khusyu atau tidak Itu belakangan, diterima atau tidak itu urusan Allah, lambat atau cepat itu perkara lain yang penting saya sudah sholat.
Rumus di tafsir, kalau ada satu kejadian di Qur'an, kalau tidak disebutkan Siapa orangnya, tidak dirinci Kapan kejadiannya, itu artinya kisah dimaksud, akan terjadi di setiap masa dengan tokoh dan nuansa yang berbeda, Jadi sekarang pun, nanti pun, akan didapati orang sholat yang penting sudah sholat, perkara yang lainnya itu terserah dalam topik yang lain.
Sedangkan orang-orang yang berhasil dalam shalatnya, dia mendapati manfaat dari sholatnya diantara manfaat manfaat yang utama, "maka dari sholat yang telah ditunaikan itu," "fazkurullaha" maka bisa mengingatkan dia akan Allah", makanya disebut shalat, berasal dari kata "Silah" , Silah itu berarti ketersambungan yg erat, ikatan yg kuat, makanya ada istilah Silaturrahim, hubungan yang kuat, erat sulit untuk dilepaskan, kalau di bentuk dlm ibadah ritual "silah" berubah menjadi "Sholah", jadi kenapa disebut dengan Shalat?, karena ibadah ini membuat kita untuk tersambung dengan Allah subhanahu wa ta'ala, harusnya orang kalau sudah sholat harusnya dia ingat, "fazkurullaha qiyaman", bahkan di saat berdirinya, selesai shalat dia bangun, dia ingat Allah, jalannya ingat Allah, kemudian "waqu'udan", kemudian duduknya ingat Allah, jadi apapun yg dia lakukan dalam aktivitasnya, apakah itu bekerja, menulis, dia tanda tangan satu hal, dia makan, dia minum, dia ingat Allah, "Wa'alajunubikum", bahkan saat tidurnya pun, dia ingat Allah.

Orang ingat Allah dengan yang tidak ingat Allah itu beda, misalnya Saya mau minum, Ada Si Fulan minum ada Si Fulan minum, ada dua orang minum, orang yang ingat Allah sama-sama minum dengan yang tidak ingat Allah dan fungsi Minuman itu menghilangkan haus Tapi orang yang yg ingat Allah, ketika minum dia akan pastikan minuman yang dia pegang itu Allah Ridho dengan minumannya, karena dia tahu Allah Melihat , Allah Mendengar.
Jadi mustahil orang minum, menyentuh minuman yang tidak disukai Allah, mustahil orang yang kerja tanda tangani proyek yang tidak diridhoi Allah, bahkan mustahil ada orang, baru keluar masjid selesai sholat ingat Allah, bisa tertukar sendal, itu mustahil, buktinya sekarang ada kesempatan di beberapa tempat, orang mau sholat saja masih takut kehilangan sendalnya, padahal orang tersebut kalau ditanya, dia ingat Allah, ada sesuatu yang keliru dalam hal-hal yang di tunaikannnya.
Maksud saya, coba dicek sampai sekian kali sholat yang kita tunaikan sampai hari ini, berapa sholat yang kita kerjakan yang sudah menjadikan kita teringat dengan Allah?.

Sabtu, 28 Januari 2017

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Qiro'atun, hanya sekedar baca saja tapi tidak menuntut kita untuk memahaminya kalau istilah orang kita kan tadarus ya walaupun agak kurang tepat itu istilahnya tadarus tadarus itu sebetulnya bukan baca Tapi belajar memahami isinya, Jadi kalau tadarus Quran belajar al-quran dengan membaca terjemahannya, dipelajari isinya itu tadarus ya.

Jadi itu amalan yang pertama Ya Anda boleh setelah tahajud misalnya Menunggu datangnya Fajar dengan memperbanyak bacaan Quran, sekalipun tidak membaca artinya.

MasyaAllah, Allah sediakan pahala yang melimpah kepada orang yang senang baca Quran, bayangkan, baru sekedar baca saja, Nabi sudah mengatakan, minimal pahalanya 1 huruf itu sepuluh 10 kebaikan, hadistnya Shahih (HR:At-Tirmidzi 2910)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

Itu baru baca, belum lagi memahami artinya kalau ada orang berkata Ya Rasulullah Kalau saya masih belajar huruf nya masih terbata-bata bacaannya Masya Allah Haditsnya di kitab yang sama nomor Hadits 2920 Adapun orang yang terbata-bata saat dia mulai belajar membaca sudah terbata-bata sulit mengeja huruf nya kata Nabi orang ini minimal dapat dua kali pahala orang yang lancar maksudnya setiap kali dia mengulang dia dapet pahala nya.

Nabi sudah sudah menawarkan, Antum tidak lancar saja pahalanya dilipatgandakan kalau dengan semua motivasi itu belum termotivasi juga harus dengan cara apalagi? Pahala Sudah digandakan, kebaikan sudah dilipatgandakan butuh apalagi?

Normalnya setiap muslim itu mesti baca Quran dalam sehari itu mesti baca Quran walaupun satu huruf biasanya satu juz pindah satu surah, biasa satu surah, pindah satu rubu', ga bisa satu rubu', satu 'ain, misalnya sibuk, coba 1 ayat. Satu ayat juga tidak bisa, coba satu huruf, tidak bisa juga? Anda bangun jam 3, anda ambil mushaf, anda liat mushaf, anda tangisi diri anda, tanyakan dosa apa saya Ya Allah.?

Jumat, 27 Januari 2017

Keutamaan Shalat Dhuha

Keutamaan shalat Dhuha yang pertama yaitu adalah shodaqoh yang paling utama terdapat pada Shahih Muslim nomor 720, sedekah itu ada zikir ada tasbih, Tahmid, takbir dan tahlil yang bisa diganti dengan dua rakaat shalat dhuha yang kedua (2) yaitu mencukupkan kebutuhan nya, terdapat di hadis riwayat [Abu Daud nomor 1289] "jangan ditinggalkan 4 rakaat Dhuha dicukupkan kebutuhannya sampai di akhir siang ada mengatakan yaitu Ashar atau Menjelang magrib" , ada perbedaan pendapat soal waktu ini, ada yang menafsirkan maksud dicukupkan disini yaitu : (1) pertama menjaga atau menekan nafsu nya atau keinginannya lebih ke kebutuhannya, yang kedua (2) adalah memberikan pahala sebanyak ibadah di siang itu walaupun tidak bisa melaksanakan di siang itu misalnya shalat sunnah baca Qur'an dzikir dan sebagainya yg ketiga (3) riilnya yaitu rezekinya dimudahkan sampai Menjelang magrib tapi harus ikhtiar juga (QS:Al-Baqarah :168), (Al-Baqarah :172).

Jadikan Setiap Aktivitas Menjadi Ibadah

Terdapat pada Quran surat ke 51 ayat 56
ayat ini adalah ayat yang populer

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menjadikan setiap aktivitasnya menjadi ibadah kepadaku, kalimat "Ins" di situ disebutkan dalam bentuk tunggal bersanding dengan "jin", disebutkan 18 kali dalam Al-Qur'an, artinya, kalau ada di Qur'an diungkapkan dengan bentuk tunggal, maka hukumnya mengikat pada setiap personal, tidak bisa diwakilkan.

contohnya adalah tidur ibadah, bangun tidur kita ibadah, ke toilet ibadah, cuci tangan ibadah, makan ibadah, minum ibadah makanya setiap aktifitas hidup yang kita lakukan ada doanya. di agama lain ga ada, bahkan ke toilet juga diatur langkahnya, masuk kaki kiri, keluar kaki kanan, kalau ke masjid masuk kaki kanan ke luar kaki kiri, jangan kebalik.

Contohnya adalah 2 orang muslim meminum minuman dengan volume yang sama dengan bentuk yang sama Si Fulan dua-duanya muslim, Si Fulan minum begitu saja yang satu lagi mengucapkan bismillah lantas dia minum,  yang satu lagi minum saja. fungsi minum menghilangkan haus dua-duanya Minum sama-sama hilang hausnya, tapi kalimat pertamanya bismillah bernilai ibadah di sisi Allah nilai ini disebut pahala-pahala inilah bekal kita untuk pulang ke akhirat. Ingat, kalau makan minum tanpa niat ibadah, org Non Muslim pun juga bisa ya, jangan sama dengan mereka, apalagi yg tidak jelas status dan Agamanya (tidak mau diatur).

Hati-hati makan-minum tanpa Menyebutkan nama Allah sama saja anda memelihara Syetan, yg bersiap menjerumuskan anda. Anda gemukkan, sehatkan syetan tanpa anda tau.  [Lihat ash-Shahîhah, 708].

Bahkan kata Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, anda tidak hafal doa nya pun cukup sertakan nama Allah di dalamnya jika tidak disebut nama Allah dalam perbuatan "baik", maka terputus nilai ibadahnya.

Ulama dalam Islam

Ulama terdapat pada (QS:35 ayat 28-29) ulama itu bentuk jamak dari kata Alim Jadi kalau Alim itu masih tunggal sifatnya.
Ulama di ukurannya bukan pintar saja, yang pintar itu banyak, sifat yang paling dominan pada ulama yaitu memiliki sifat "KHASYAH"
Ciri-ciri ulama itu yang paling dominan yaitu " YAKHSYALLAHA", dia punya rasa takut yang dalam kepada ALLAH, jd KHASYAH itu rasa takut yang dalam kepada ALLAH.
Jadi nggak sembarangan ya Jadi kalau bicara dia nggak sembarangan bicara dia akan lihat apakah pembicaraan diridhoi ALLAH atau tidak, kemudian, kalau ingin memberikan fatwa, Dia nggak akan sembarangan, kadang istikharah dulu, Doa dulu, bukan karena fatwanya, tapi karena Allah Ridha nggak dengan fatwanya, jadi nggak sembarangan dalam bicara.

Sekarang banyak orang bicara tentang Al Maidah ayat 51, belum tentu yang banyak komentar itu, pernah lihat ayatnya, belum tentu itu. Barangkali belum buka mushaf, ya rame aja, Al Maidah ayat 51, Al Maidah ayat 51.
Alhamdulillah, Allah Tampilkan di lisan setiap orang.

Reporter TV bicara Al Maidah 51, itu belum tentu baca juga, non muslim bicara Al Maidah 51, Alhamdulillah! setiap lisan bicara, tinggal kitanya, diambil nggak itu Petunjuk?, bahkan tukang kaos pun nulis Al Maidah 51, macam-macam itu, semua ada, itu syia'r, syia'r kebaikan yang Allah Tanamkan dalam setiap tanda.
Jadi kalau Anda, maaf ya, diturunkan Allah 1 ayat, untuk mendekatkan anda dengan energi Qur'an, supaya Anda kembali pada tuntunan Allah. Masih juga tidak Acuh dan abai, harus dengan cara apa lagi harus berapa ayat lagi? Agar anda sadar.

disebutkan ada tiga sifat penyampai kebaikan;

(1) Mubaligh
Mubaligh itu artinya "PENYAMPAI"/ yang menyampaikan sesuatu, pesan yang disampaikannya disebut TABLIGH.

Misal anda ketika pulang belajar ttg Tuntunan shalat yg benar misal, kemudian menyampaikan pesan pesan tersebut kepada keluarga atau teman-teman terkait, maka seketika, anda menjadi mubaligh, dan tidak harus pakai peci dulu, Koko dulu ya, Kecuali dalam konteks tertentu ya.

(2) Da'i
Anda sudah mengajak orang, kalau sudah mengajak pada kebaikan maka berubah menjadi Da'i namanya, dan sifatnya disebut dakwah.
Mubaligh beda dengan Dai, kalau Mubaligh, tidak disyaratkan Dia memiliki ilmu khusus untuk menguasai materi
yang disampaikan, yang penting di share pada orang, itu sudah Tabligh namanya, dan dia mendapatkan pahala kebaikan dari situ terdapat pada (HR. Muslim nomor hadis 1893).

Yang mana isinya, Siapa yang menunjukkan suatu kebaikan, kemudian diamalkan oleh orang lain, maka penunjuk ini mendapatkan pahala serupa dengan yang mengamalkan, tanpa dikurangi sedikitpun.

Ini Aneh ya, kalau anda bisa berbuat yang baik-baik, kenapa menulis yang tidak bermanfaat?. Anda bisa Tuliskan yang baik-baik, misal, waktu sholat sekarang  sekitaran Cibiru atau Bandung, Shubuh-nya jam sekian, Dzuhur-nya jam sekian, sampai Isya jam sekian. Itu teman Anda, begitu melihat pesan yang anda tampilkan "Oh iya, saya belum sholat", lalu dia sholat, begitu dia shalat, anda mendapatkan pahala sholatnya tanpa dikurangi sedikitpun.

Jadi, jika anda bisa menulis yang baik-baik, ngapain nulis yg Nggak bermanfaat?, "Duh mendung, duh laper, duh capek" ,  terus kirim, nggak ada kerjaan kan?.

Apalagi nulis yang tidak benar, lihat teman agak beda sedikit, jalan gak nyapa, terus Anda tulis status. Kenapa sih harus curhat kepada orang yang tidak ada urusannya dengan anda?,Kalau anda punya masalah dengan orang tertentu, itu  langsung pada orangnya.
Anda lewat, teman lewat, nggak nyapa Anda, Anda bisa tegur kan? "Assalamualaikum ukhti, kok buru-buru? Daripada anda prasangka yang tidak baik, kan enak kalau seperti itu.

Anda nulis ya," Nggak nyangka dia seperti itu", itu anda sedang NYANGKA itu!.

Terus selanjutnya, Da'i itu kalau ngajak minimal punya ilmu dakwah, walaupun ilmu tentang fiqhnya itu belum dalam.

Jadi syarat Da'i kalau Ngajak orang;

(1) Anda memahami esensi orang yang anda ajak

Misal, Anda ajak orang ke masjid, hal pertama yang harus anda lakukan, anda harus tahu dulu kemuliaan tentang Masjid , baru setelah itu, anda belajar cara mengajak orang lain supaya diterima dengan nyaman, dan dia senang menunaikannya. Terdapat pada (QS:16:125). Jadi kalau belum tahu caranya, lebih baik diam dulu.

Yang pertama itu HIKMAH dulu, pesan itu nomor 2.

Hikmah itu punya dua arti;

(1) Adanya kesesuaian, antara perilaku dan perkataan, Jadi kalau anda ingin ajak orang, anda praktekan dulu, perbaiki diri dulu.
(2) Hikmah itu menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadar nya, jadi beda, Ketika kita menyampaikan sesuatu pada teman-teman kita misalnya, yang berprofesi sebagai pedagang, dengan teman-teman kita yang mungkin ada di jabatan-jabatan tertentu, itu cara bicara kita sudah lain kan?, nggak bisa disamakan.
Misal, anda jadi imam ingin membenarkan shaf, anda harus melihat makmumnya siapa, membenarkan anak kecil dan orang dewasa itu beda caranya.

(3) Alim
Kalau mubaligh dan Dai itu belum ditanya hukum, karena ilmunya hanya untuk mengajak orang, bukan memberikan fatwa. Jadi kalau mau tanya hukum Jangan tanya Da'i atau Mubaligh, bertanyalah hukum itu pada A'lim jamaknya U'lama.

Syarat 'Ulama :

(1) Ilmu Pengetahuan
Harus punya ilmu dulu, itu pasti ya.
(2) Punya sifat Khasyah (Ketakutan yang dalam hanya kepada Allah)

Alim bisa menempatkan ilmu sesuai ridhonya Allah, jadi teman-teman, jangan sembarangan ya, minta pada orang-orang yang mohon maaf, kredibilitasnya saja meragukan, maaf, memang pintar dia dengan Alquran, hadist, ayatnya nomornya, tapi perilaku kesehariannya, tidak membuat kita yakin dia dekat dengan Allah, kata-katanya sering kontroversial, tindakannya kadang-kadang membingungkan, itu jangan dijadikan rujukan, itu berbahaya karena itu, Nabi pernah mengingatkan pada kita akan hadist, terdapat pada (HR. Muslim Nomor 64 halaman 3 paling kiri sebelah atas jilid 1 Dari Abu Hurairah r.a)

Yaitu isi hadistnya, akan muncul di akhir zaman nanti "Dajjaluna Kazzabun" yaitu orang-orang pintar yang sering berdusta, dia akan berbicara pada Anda tentang konsep agama yang membuat Anda kaget, jangankan Anda, orang dulu pun bisa ikutan kaget.

Pernah tiba-tiba ada orang yang bicara, "semua agama itu sama, mempunyai Tuhan yang sama, tapi caranya beda-beda", tiba-tiba juga ada yang mengatakan "al-Maidah itu bukan seperti itu, tapi kesini maknanya" .

Bahasa Nabi tegas sekali, "hati-hati anda dengan mereka, dan mereka itu musuh yg paling bahaya", bukan orangnya, tapi pemikirannya, sikapnya, sifatnya, itu yang bahaya jadi hati-hatilah dalam mengambil rujukan tentang konsep Agama.

Diantara ulama itu ada yang sifatnya Da'i, dan ada ulama yang juga bisa sifatnya menyampaikan atau mubaligh, tapi tidak sedikit juga ulama ini yang mungkin punya keterbatasan dalam menyampaikan sehingga umatnya yang datang kepada ulama tersebut.

Kata ulama itu dibagi 4 bagian;

(1) Ada Ulama Air Hujan,  datang ke mana saja, jangankan bunga yang bagus, rumput pun, dia datangi juga, dalam menyampaikan dakwah dia tidak pilih-pilih jamaah.
(2) Ulama yg seperti mata air, mata air itu nggak bisa pergi, tapi orang datang ke situ mengambil manfaat.
(3) Ulama Air PAM, jadi maaf, kalau nggak dibayar gak keluar itu airnya, Ulama tarifan, terdapat pada (QS: 74 ayat 1-7)
(4) Ulama air Mata, Hanya membuat kita menangis lihat perilakunya,  belum ngajar kita aja, kita udah gak enak, dan yang seperti ini kita doakan, bukan dicela, mendoakan supaya jadi lebih baik Minimal dia bertaubat di akhir hayatnya.

Dzikir Pagi

Dzikir yang Dibaca di Waktu Pagi

(Antara Shubuh hingga siang hari ketika matahari akan bergeser ke barat)
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
[1]HR. Al Hakim (1: 562). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 655.

Membaca ayat Kursi
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255) (Dibaca 1 x)
Faedah: Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.[1]
[2]HR. Abu Daud no. 5082, Tirmidzi no. 3575. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)
Faedah: Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya.[2]
[3]HR. Muslim no. 2723. Lihat keterangan Syarh Hisnul Muslim, hal. 161.

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya:

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Meminta pada Allah kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di hari ini dan kejelekan sesudahnya. Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua. Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.[3]
[4]HR. Tirmidzi no. 3391 dan Abu Daud no. 5068. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Artinya:

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)[4]
[5]HR. Bukhari no. 6306.

Membaca Sayyidul Istighfar
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya:

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.[5]
[6]HR. Abu Daud no. 5069. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ
Allahumma inni ash-bahtu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.
Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa neraka.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari. Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah.[7]HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

[8] HR. Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi).

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.
Artinya:

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur.[8]
[9] HR. Abu Daud no. 5088, 5089, Tirmidzi no. 3388, dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya:

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba memudaratkannya.[9]
[10] HR. Abu Daud no. 5072, Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya:

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah. [10]
[11] HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro (381/ 570), Al Bazzar dalam musnadnya (4/ 25/ 3107), Al Hakim (1: 545). Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227.

أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.
Artinya:

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang. [11]
[12] HR. Ahmad (3: 406). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. Lihat pula As Silsilah Ash Shahihah no. 2989.

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin
Artinya:

“Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas (kalimat syahadat), agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (Dibaca 1 x di pagi hari saja)[12]
[13] HR. Muslim no. 2692.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih.
Artinya:

“Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu.[13]
[14] HR. An Nasai Al Kubra 6: 10.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)
Faedah: Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula.[14]
[15] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 100 x dalam sehari)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu.[15] 
[16] HR. Muslim no. 2726.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.
Artinya:

“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca 3 x di waktu pagi saja)
Faedah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Juwairiyah bahwa dzikir di atas telah mengalahkan dzikir yang dibaca oleh Juwairiyah dari selepas Shubuh sampai waktu Dhuha. [16]
[17] HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca 1 x setelah salam dari shalat Shubuh)[17]
[18] HR. Bukhari no. 6307 dan Muslim no. 2702.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Artinya:

“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” (Dibaca 100 x dalam sehari)[18]