Minggu, 05 Februari 2017

Perintah dan Larangan Allah dalam Al Qur'an

Yang diperintahkan Allah, yaitu sebagai berikut:

1. Beriman kepada yang ghaib (Qs.2:3, 177, 186, 277; Qs.4:150-152, 162) (maksudnya iman kepada yang ghaib ialah sebagai basic dari sebuah keimanan/keyakinan, karena apa yang kita yakini adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap pancaindra. Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya Allah, Malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya); berarti termasuk di dalamnya beriman kepada Allah (Qs.2:136, 177; Qs.4:136);

2. Mendirikan shalat (Qs.2:3, 110, 177, 238, 277; Qs.4:101-104, 162; Qs.6:72; Qs.8:3; Qs.9:71, 112; Qs.13:22; Qs.14:31; Qs.17:78; Qs.23:9; Qs.27:3; Qs.29:45; Qs.31:4, 17; Qs.35:29; Qs.42:38; Qs.108:2); menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa (Qs.2:21; Qs.4:36; Qs.7:59, 65, 73, 85; Qs.10:104; Qs.13:36; Qs.40:14; Qs.41:37; Qs.98:5) dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya (Qs.7:29; Qs.39:2); palingkan wajahmu ke arah Masjidil Haram (Qs.2:149, 150); shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat (Qs.17:78); bersegeralah shalat jum’at ketika mendengar seruannya (Qs.62:9); sembahyang tahajud sebagai ibadah tambahan (Qs.17:79; Qs.25:64; Qs.73:2-3; Qs.76:26); khusyuk dalam shalat (Qs.23:2);

3. Menafkahkan sebahagian rizki kepada orang-orang yang disyariatkan agama untuk diberikan (yang membutuhkan) (Qs.2:3, 177; Qs.13:22; Qs.14:31; Qs.17:26; Qs.30:38; Qs.35:29); tunaikanlah zakat (Qs.2:110, 177, 277, 162; Qs.9:71, 103; Qs.23:4; Qs.27:3; Qs.31:4; Qs.41:7; Qs.98:5); menafkahkan hartanya di jalan Allah, misalnya dalam ongkos berperang (zaman dahulu), berinfak, bersedekah (Qs.2:245, 261-274; Qs.3:134; Qs.8:3; Qs.33:35; Qs.57:18; Qs.63:10); yang berhak menerima zakat (Qs.9:60); janganlah memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak (Qs.74:6); berkurban (Qs.108:2);

4. Mengimani Al Qur’an DAN Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu (Qs.2:4, 121, 177; Qs. 3:3-4; Qs.4:47, 136; Qs.7:2); bacalah Al Qur’an (Qs.29:45; Qs.35:29; Qs.73:4);

5. Meyakini akan adanya (kehidupan) akhirat (Qs.2:4; Qs.27:3-5; Qs.31:4; Qs.41:7);

6. Ingat kepada Allah, bersyukur kepada-Nya, dan jangan mengingkari nikmat-Nya (Qs.2:152, 172; Qs.3:190-195; Qs.9;112; Qs.31:12; Qs.33:9); hanya mengingat kepada Allah hati menjadi tenteram (Qs.13:28; Qs.63:9);

7. Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat (Qs.2:153); perintah untuk bersabar dalam menghadapi cobaan (Qs.2:155, 177; Qs.3:125, 146, 186, 200; Qs.13:22; Qs.16:96, 127; Qs.20:130; Qs.29:58-59; Qs.31:17; Qs.33:35; Qs.41:34-35; Qs.52:48); Berdoa kepada Allah dengan berendah diri dan suara yang lembut, dengan rasa takut dan harapan, tidak melampaui batas (tentang yang diminta dan cara meminta, Allah Maha Tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya) (Qs.7:55, 56, 205; Qs.40:60);

8. Makanlah yang halal lagi baik dari yang terdapat di bumi (Qs.2:168; Qs.16:114); makan di antara rezeki yang baik-baik (Qs.2:172; Qs.5:88); sempurnakan takaran/timbangan dengan neraca yang benar, jgn curang (Qs.17:35; Qs.83:1-6);

9. Menepati janjinya apabila ia berjanji (salah satu pokok kebajikan- habluminannas) (Qs.2:177), memelihara amanat dan janjinya (Qs.23:8); Memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian (menjalankan perintah dan seruan-Nya; menunaikan ketika bernazar/bersumpah – habluminallah) (Qs.13:20; Qs.16:91; Qs.76:7);

10. Menjalankan hukum Allah (Qs.24:1), diwajibkan qishaash (mengambil pembalasan yang sama) berkenaan dengan orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Namun, bila mendapat suatu pemaafan hendaknya yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan yang diberi maaf membayar ganti rugi/diat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula (Qs.2:178; Qs.5:49-50; Qs.9:112; Qs.16:126; Qs.42:39-43); Jika kamu bersabar (tidak membalas siksaan yang ditimpakan kepadamu) itulah yang lebih baik bagi orang yang bersabar (Qs.16:126);

11. Bila kedatangan tanda-tanda maut, diwajibkan untuk berwasiat secara ma’ruf/ adil dan baik (Qs.2:180, 240); berwasiat dengan persaksian (Qs.5:106-108);

12. Diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu yaitu dalam beberapa hari tertentu, dan bagi yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya mengganti puasanya sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain, dan bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa maka wajib baginya membayar fidyah/memberi makan seorang miskin (Qs.2:183, 184, 185; Qs.33:35);

13. Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas (Qs.2:190);

14. Berhaji (Qs.2:196-203; Qs.22:27);

15. Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, jangan menyimpang dari jalan Allah (murtad, sesat/musyrik) (Qs.2:208-209);

16. Menjauhkan diri dari wanita/isteri di waktu haid (jangan menyetubuhi wanita di waktu haid, sebelum mereka suci) (Qs.2:222);

17. Memberikan mut’ah/pemberian hadiah (uang selain nafkah) sebagai penghibur menurut yang ma’ruf kepada wanita-wanita yang diceraikan (Qs.2:241);

18. Taatilah Allah dan Rasul agar kamu diberi rahmat (Qs.3:132; Qs.4:59, 69; Qs.5:92; Qs.7:3; Qs.8:20, 24; Qs.9:71; Qs.24:54; Qs.33:36; Qs.39:55,-59; Qs.64:12); Tidak menentang Rasul (Qs.4:115); Tidak mengkhianati Allah dan Rasul, dan amanah-amanah yang dipercayakan kepada kamu (Qs.8:27);

19. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang (Qs.3:134; Qs.7:199);

20. Memelihara hubungan silaturahmi (Qs.4:1; Qs.13:21);

21. Memberikan kepada anak yatim yang sudah baligh harta mereka yang menjadi haknya, jangan menukar hartamu yang buruk dengan harta mereka yang baik dan jangan memakan harta mereka (anak yatim) bersama hartamu (Qs.4:2, 6; Qs.6:152; Qs.17:34); gunakan harta mereka anak yatim yang dalam kekuasaanmu untuk kebutuhan hidup dan keperluan mereka, dan ucapkan pada mereka perkataan yang baik (Qs.4:);

22. Memberikan mahar kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan (persetujuan dua pihak) (Qs.4:4, 24);

23. Melaksanakan pokok-pokok hukum waris dengan bagian-bagian yang sudah ditentukan (Qs.4:7-14);

24. Berbuat baik kepada kedua ibu-bapak dengan sebaik-baiknya (jangan membentak mereka, dan katakanlah perkataan yang mulia) (Qs.6:151; Qs.17:23; Qs.31:14; Qs.46:15), karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan yg bukan maksiat kemudian kehabisan bekal, termasuk anak yang tidak diketahui ibu bapaknya), dan hamba sahayamu (Qs.4:36); mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar (Qs.7:199; Qs.9:71, 112; Qs.31:17); berbuat kebajikan (Qs.16:90);

25. Menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (Qs.8:27); dan bila menetapkan hukum/bersikap diantara manusia supaya menetapkan dengan adil (Qs.4:58, 105, 135; Qs.5:8; Qs.6:152; Qs.7:29, 85; Qs.16:90; Qs.49:9);

26. Mentaati ulilamri diantara kamu, jika berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) (Qs.4:59);

27. Bila hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki (berwudhu), dan jika kamu junub (hadas besar) maka mandilah, dan jika sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari kakus atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka tayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)-sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu-. (Qs.5:6);

28. Perintah untuk bertaubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, sesudah itu dan memperbaiki dirinya (Qs.4:16-18; Qs.5:34, 39; Qs.9:104, 112; Qs.11:3; Qs.16:119; Qs.25:70, 71; Qs.40:3; Qs.66:8); memohon ampun kepada Allah (Qs.41:6; Qs.57:21);

29. Memberi peringatan dengan kitab itu (Al Qur’an), dan menjadikannya pelajaran bagi orang-orang beriman (Qs.7:2); Serulah manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (Qs.16:125; Qs.46:31); berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Qs.26:214); nasihat-menasihati mengerjakan amal saleh, mentaati kebenaran, dan menetapi kesabaran (Qs.103:3);

30. Menutupi aurat (Qs.7:26); bagi wanita agar jangan menampakan perhiasannya (keindahan tubuhnya) kecuali yang biasa nampak. Hendaknya menutupkan kain kudung ke dadanya, kecuali terhadap yang muhrimnya (Qs.24:31; Qs.33:59);

31. Bekerja (Qs.9:105; Qs.28:73); bekerja dalam arti luas (bertakwa, berbuat amal saleh) (Qs.39:39, 40);

32. Janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros (Qs.17:26, 28); Membelanjakan harta dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah yang ditengah-tengah yang demikian (Qs.25:67);

33. Katakan Insya Allah ketika berjanji akan mengerjakan sesuatu esok/nanti (Qs.18:23-24; Qs.68:18);

34. Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenamnya (menjelang maghrib), dan waktu malam juga siang supaya kamu merasa senang (Qs.20:130; Qs.24:36; Qs.33:42; Qs.52:48-49; Qs.68:28; Qs.76:26); banyak menyebut nama Allah (Qs.33:35); berzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan sebanyak-banyaknya (Qs.33:41); bershalawat untuk Nabi “Allahumma shalli’ala Muhammad”, salam penghormatan kepada Nabi “Assalamu’alaika ayyuhan Nabi” (Qs.33:56);

35. Menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isterinya (Qs.23:5-6); menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya terhadap wanita yang bukan muhrimnya (Qs.24:30, 31); menjaga kesucian diri (Qs.24:33); memelihara kehormatannya (Qs.33:35);

36. Anjuran untuk menikah bagi yang telah dewasa dan belum menikah (Qs.24:32); membolehkan menikah dengan bekas isteri anak angkatnya (Qs.33:37);

37. Tidak memberikan persaksian palsu (Qs.25:72); katakanlah perkataan yang benar (Qs.33:70);

38. Bila bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan tidak berfaedah, lalui saja dengan tetap menjaga kehormatan diri (Qs.25:72);

39. Sederhanalah kamu dalam berjalan (sederhana dalam arti kata sesungguhnya maupun sederhana dalam berjalan/tidak terlalu cepat atau lambat) dan lunakkanlah suaramu (Qs.31:19);

40. Memanggil anak-anak angkatmu dengan memakai nama bapaknya (kandung), jika tidak mengetahui bapaknya maka panggillah sebagai saudaramu seagama dan maula-maulamu (Qs.33:5);

41. Bertawakal dan berserah diri hanya kepada Allah (Qs.39:38; Qs.39:54; Qs.42:10);

42. Menolak kejahatan dengan cara yang lebih baik (Qs.41:34);

43. Memutuskan masalah/urusan keduniaan dengan musyawarah antara mereka (Qs.42:38);

44. (Hubungan antara orang Islam dan orang kafir yang tidak memusuhi Islam tidak dilarang) Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Allah tidak melarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangimu dan tiada mengusir kamu dari negerimu. Allah hanya melarang menjadikan orang yang memerangi dan mengusirmu dari negerimu sebagai kawan (Qs.60:1, 7-9);

45. Mengerjakan apa yang kamu katakan (seruan yang baik/amal saleh) (Qs.61:2-3);

46. Membaca (dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan sebagai kunci ilmu pengetahuan) (Qs.96:1);

——————————————————-

Yang dilarang Allah, yaitu sebagai berikut:

1. Menjadi golongan orang yang munafik, mengaku beriman tapi sesungguhnya tidak beriman (Qs.2:8-20; Qs.4:138, 142, 143, 145; Qs.8:20, 21; Qs.9:79-80; Qs.63:1-8); menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak penuh keyakinan), jika diberi kebaikan dia beriman, jika diuji dengan bencana kembali kafir (Qs.22:11; Qs.30:33; Qs.39:49); lemah imannya karena menghadapi cobaan (Qs.29:10);

2. Menyekutukan Allah (syirik) (Qs.2:22, 163; Qs.3:18, 64; Qs.4:36; Qs.6:151; Qs.10:106; Qs.11:2; Qs.13:36; Qs.17:23; Qs.22:12, 13; Qs.25:68; Qs.28:88; Qs.31:13; Qs.39:64-66; Qs.41:6; Qs.41:14; Qs.46:5); kafir/tidak beriman pada rukun iman (Qs.3:10-17, 131; Qs.4:38, 56; Qs.5:10; Qs.14:2; Qs.33:64, 65; Qs.40:6; Qs.57:19; Qs.67:6); Allah tidak mengampuni dosa syirik, Dia mengampuni dosa selain syirik (Qs.4:48, 116); beriman kemudian kafir-kemudian beriman-kemudian kafir lagi-kemudian bertambah kekafirannya (murtad) (Qs.4:137); menyeru menyembah tuhan yang lain disamping Allah (Qs.26:213); mempersekutukan Tuhan sekalipun yang menyuruhnya ibu-bapak (Qs.29:8; Qs.31:15);

3. Menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya (beribadah), dan berusaha merobohkannya (Qs.2:114); Menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, atau membuat menjadi bengkok (Qs.7:45, 86; Qs.8:47; Qs.14:3; Qs.16:94; Qs.47:32);

4. Mengikuti agama orang Yahudi dan Nasrani (Qs.2:120); mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, mempunya banyak harta dan anak namun memiliki sifat jelek tersebut di atas, yang menganggap ayat-ayat Allah sebagai dongengan (Qs.68:8-16);

5. Mengingkari Al Qur’an (Qs.2:121; Qs.7:36, 37, 103; Qs.25:36; Qs.41:41; Qs.46:7-8); tidak mendengarkan Al Qur’an dgn sungguh-sungguh dan justru membuat hiruk-pikuk terhadapnya, supaya dapat mengalahkan/membingungkan mereka (Qs.41:26);

6. Menyembunyikan ayat-ayat Allah atau keterangan-keterangan yang sudah jelas dan petunjuk dalam Al Kitab (Qs.2:159);

7. Memakan makanan yang diharamkan Allah, yaitu Allah hanya mengharamkan bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya sebelum mati, hewan yang disembelih untuk berhala. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa memakannya sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas’ maka tidak ada dosa baginya (Qs.2:173; Qs.5:3; Qs.6:121; Qs.16:115);

8. Mengubah isi wasiat setelah ia mendengarnya (Qs.2:181);

9. Memakan harta sebahagian orang lain dengan cara yang batil, kemudian membawa urusan harta itu/perselisihan kepada hakim agar kamu dapat memakan harta orang lain itu dengan curang (Qs.2:188; Qs.4:29);

10. Memfitnah (Qs.2:191); menuduh wanita baik-baik berbuat zina (Qs.24:23);

11. Meminum khamar/minuman yang memabukkan dan berjudi terdapat dosa yang lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya (Qs.2:219; Qs.5:90);

12. Menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, dan jangan pula menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman (Qs.2:221);

13. Bersumpah atas nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, sumpah tersebut harus dibatalkan dan baginya membayar kafaraat (Qs.2:224, Qs.24:22); dan Melanggar sumpah yang memang dimaksudkan/sengaja yang bukan penghalang berbuat kebajikan (Qs.5:89; Qs.16:91);

14. Riba (Qs.2:275-276, 278-279; Qs.3:130; Qs.30:39);

15. Mengambil orang-orang kafir menjadi wali/auliyaa (teman akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin (Qs.3:28; Qs.4:138-139, 144);

16. Berbuat bakhil atas harta yang dikaruniai Allah (Qs.3:180; Qs.100:8);

17. Melakukan perbuatan keji (berbuat zina termasuk terhadap sesama jenis) (Qs.4:15-16; Qs.6:151; Qs.7:33; Qs.16:90; Qs.24:2; Qs.25:68); jangan mendekati zina (Qs.17:33); Jangan mengikuti langkah-langkah setan, krn sesungguhnya itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan yang munkar (Qs.24:21);

18. Mengawini wanita-wanita yang: telah dikawini oleh ayahmu (Qs.4:22); Mengawini ibumu, anakmu yang perempuan, kakak perempuan, saudara bapakmu yang perempuan, saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara kandung kita, ibu yang menyusui kita/ibu pengganti, saudara perempuan sepersusuan, ibu istri (mertua), anak tiri dari istri yang telah kau campuri, istri anak kandung (menantu), menghimpunkan dalam perkawinan dua perempuan yang bersaudara (Qs.4:23);

19. Mengawini wanita yang bersuami (Qs.4:24);

20. Mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk berzina (Kawin Kontrak) (Qs.4:24)

21. Iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain (terkait pada bagian waris laki-laki yang lebih besar daripada wanita) (Qs.4:32);

22. Sombong, angkuh dan membangga-banggakan diri (Qs.8:47; Qs.17:37; Qs.31:18), kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya (kufur nikmat) (Qs.4:37; Qs.17:29; Qs.104:2-4; Qs.107:3); kisah Karun yang sombong akan hartanya (Qs.28:76-82);

23. Menafkahkan harta dengan maksud riya kepada manusia (Qs.4:38); riya (Qs.8:47; Qs.107:6);

24. Shalat dalam keadaan mabuk (Qs.4:43);

25. Hampiri masjid sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali hanya lewat, hingga kamu mandi (Qs.4:43);

26. Seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain, kecuali karena tidak sengaja, maka bagi yg tidak sengaja hendaklah memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat untuk diserahkan kepada keluarga yang terbunuh, kecuali jika mereka keluarga yang terbunuh membebaskan diat. Barangsiapa tidak memperoleh hamba sahaya maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah (Qs.4:92);

27. Membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Jahannam (Qs.4:93; Qs.6:151; Qs.25:68); membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan (Qs.6:151; Qs.17:31);

28. Duduk beserta mereka orang-orang kafir yang sedang memperolok dan mengingkari ayat-ayat Allah, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain (Qs.4:140); mempergunakan perkataan yg tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan (Qs.31:6);

29. Allah tidak menyukai ucapan buruk (mencela orang, memaki, menerangkan keburukan org lain, menyinggung perasaan org, dsb) yang diucapkan dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (org teraniaya boleh mengemukakan keburukan org yg menganiaya di hadapan hakim/penguasa) (Qs.4:148); perbuatan dan perkataan yang tiada berguna (Qs.23:3); memperolok-olok kaum yang lain (Qs.49:11); membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya (Qs.74:45); mengumpat dan mencela (Qs.104:1);

30. Mengundi nasib dengan anak panah (atau semacamnya) (berbuat fasik), berkorban untuk berhala (Qs.5:3, 90); Memperuntukan bagi Allah saji-sajian, dan pula saji-sajian untuk berhala (Qs.6136);

31. Mencuri (Qs.5:38);

32. Memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi (Qs.5:33; Qs.13:25); menentang Allah dan Rasul-Nya (Qs.58:5);

33. Mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah melampaui batas (Qs.5:87; Qs.7:33; Qs.78:22); dalam hal makanan (Qs.6:119; Qs.16:116);

34. Membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata “telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya. Dan orang yang berkata “saya akan menurunkan apa seperti yang diturunkan Allah” (mengaku dirinya Rasul atau mengaku dirinya sebagai Tuhan) (Qs.6:93; Qs.39:32);

35. Memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah , karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (Qs.6:108);

36. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar (Qs.7:33);

37. Menjadikan agama sebagai main-main dan sendagurau, dan tertipu dengan kehidupan dunia (Qs.7:51);

38. Mengerjakan perbuatan faahisyah (homoseksual) (Qs.7:80, 81);

39. Memintakan ampun untuk orang-orang musyrik (Qs.9:113);

40. Lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat (terlena dengan kehidupan dunia) (Qs.14:3);

41. Berbuat kemungkaran dan permusuhan (Qs.16:90);

42. Mempercayai Tuhan mempunyai anak/mengambil seorang anak (Qs.18:2-5; Qs.19:88-92);

43. Memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (Qs.24:27, 28);

44. Berpaling dengan menyombongkan diri bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami (Al Qur’an) (Qs.31:7; Qs.45:8-9); memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (ilmu yang benar) karena kesombongan semata/ingin mencapai kebesaran (Qs.40:56);

45. Menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat (Qs.33:58);

46. Berputus asa dari rahmat Allah

7 Kunci Hidup Sehat dr. Sinhya

Untuk singkatnya ada beberapa faktor yang harus dilakukan (atau dihindari) untuk menjaga agar karakteristik lambung dan usus tetap baik yang oleh Dr. Shinya disebut 7 kunci untuk hidup sehat :
- Menu makanan yang baik, yaitu terdiri dari :
    - 85-90% makanan nabati berupa biji-bijian, sayuran dan buah-buahan (yang paling baik adalah yang ditanam secara organik, karena bahan kimia hanya memboroskan ‘energi dan enzim’ yang sebenarnya bisa dipakai untuk keperluan lain tubuh kita ).
    - Sekitar 10-15% berupa protein, sumber paling baik adalah ikan kecil (karena ikan besar mengandung merkuri) dan konsumsi daging sapi atau domba harus dibatasi atau dihindari.
    - Makanan dan bahan yang harus dihindari/dibatasi : teh hijau jepang, teh cina, kopi, makanan yang manis dan gula, nikotin, alkohol, cokelat, lemak dan minyak, garam meja biasa (gunakan garam laut yang mengandung mineral)
    - Cara makan yang baik adalah berhenti makan 4-5 jam sebelum tidur, mengunyah setiap suap 30-50 kali, makan buah atau minum jus 30-60 menit sebelum waktu makan dan konsumsilah lebih banyak makanan mentah atau dikukus sebentar ( menggoreng sangat tidak dianjurkan),
- Mengkonsumsi air yang baik yaitu air yang memiliki kekuatan reduksi yang besar, yang belum terpolusi oleh zat-zat kimia.
    - Orang dewasa sebaiknya minum 6-10 gelas setiap hari
    - Minum 1-3 gelas air setelah bangun tidur pagi hari
    - Minum 2-3 gelas air sekitar 1 jam sebelum setiap waktu makan
- Pembuangan yang teratur (jangan gunakan obat pencahar)
- Olah raga secukupnya (olah raga berlebihan justru akan menghasilkan sejumlah radikal bebas yang besar)
- Istirahat yang cukup

-  Pergi tidur pada waktu yang sama setiap malam dan dapatkan tidur 6-8 jam tanpa terputus
-  Lakukan tidur singkat setelah makan siang (sekitar 30 menit)
-  Pernapasan dan meditasi
-  Bermeditasi
-  Berpikiran positif
-  Kenakan pakaian longgar yang tidak menyesakkan napas
-  Kebahagiaan dan cinta
-  Kebahagiaan dan cinta akan meningkatkan faktor enzim tubuh, terkadang bagai keajaiban
-  Luangkan waktu untuk sikap menghargai
-  Hidup penuh semangat dan hadapi hidup, pekerjaan dan orang-orang yang Anda cintai dengan sepenuh hati.

Minggu, 29 Januari 2017

Neraka Tanpa Hisab

Neraka Tanpa Hisab

Pernah dengar istilah ini, masuk surga tanpa hisab? sering kita dengar, anda mesti dengar masuk neraka tanpa hisab, masuk neraka tanpa hisab, saking "cepatnya masuknya" di dalam Quran surah 18 Al Kahfi ayat 100 sampai 101 posisi paling kiri sebelah atas ke pertengahan.

Jadi orang-orang yang masuk neraka ini yang cepat sekali tanpa hisab itu bukan neraka biasa, kalau Neraka biasa masih ada amal baiknya mau cari-cari sampe sunnah-sunnahnya begitu tidak ketemu, banyak amal jeleknya, salahnya, sudah, neraka dia.

Tapi Neraka Jahannam untuk orang-orang seperti ini.

Proses di hari kiamat nanti kita akan saksikan sendiri, saat orang mulai melihat ada orang yang cepat melalui shiratnya maka cepat masuk surganya ada yang menerima kitab nya sebelah kanan senangnya, ada yang dari belakang punggungnya,
Dia merasakan ketakutan luar biasa tiba-tiba ada orang yang tegang luar biasa, "saya nanti Di mana ya? kitab saya di kanan, di kiri atau di belakang ya?

tiba-tiba ayatnya turun, "Udah kamu nggak usah banyak mikir, tempat kamu disini nih neraka Jahanam, langsung masuk aja, capek kalau dipikirin juga, pada saat itu ketika orang sibuk memikirkan hisab ditampilkan pada golongan ahli neraka jahanam tempat kamu kan di sini, nggak usah banyak mikir.

siapa orang-orang ini? ayat 101 nya bukan cuma orang-orang kafir, orang-orang tidak beriman saja, tapi orang-orang beriman juga yang sulitnya luar biasa, orang-orang yg matanya sulit sekali mendapatkan petunjuk Allah.
Bahkan telinganya sulit dengar itu, ada orang mengatakan saya Islam, dengar Adzan, Allahu Akbar Allahu Akbar, ada orang masih telat, yg ini malah marah marah, "kenapa adzan dekat rumah saya?"

Dipanggil lewat panggilan belum mau juga, saking sayangnya Allah, Allah tidak akan membiarkan seorang hamba kembali ke akhirat kecuali ia sudah mendapatkan petunjuk sampai ke puncaknya, kalau telinga nya ga bisa dengar, barangkali matanya masih bisa liat, dia belum mau ke Mesjid, tiba-tiba diliatkan di depan matanya orang berangkat, mulai dari orang tua, anak-anak, orang sudah mulai masuk Mesjid, dia masih betulin mobil..

Mulai lewat, "pak, Assalamu’alaikum","Wa'alaikumsalam" tetap aja ga diliat, masih saja sibuk dengan dunianya, sampai ke anak kecil "om, Mesjid yuk?," udah nanti aja, "om nyusul"

Orang-orang seperti ini, yang sulit diingatkan saat didunia, langsung disebutkan, udah, Neraka Jahannam.

KALAU DIA TIDAK BERTAUBAT SELAMA HIDUPNYA.

2 Golongan Manusia Ketika Menunaikan Shalat

Saya ingin Ingatkan satu hal kaidah yang sangat penting sekali, terdapat pada Al-Qur’an, setiap orang yang telah menunaikan sholat itu oleh Al Qur’an dibagi pada dua golongan, dan perhatikan sampai pada siang ini, anda berada di golongan mana. Terdapat pada Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 103;

"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa': Ayat 103)

Maka jika sholat telah tuntas Anda tunaikan, Kalau anda berhenti membaca disini, waqaf di ayat ini, Maka itu menunjuk pada golongan yang pertama, kata para ulama, ini menunjuk pada golongan yang pertama, ada orang yang shalat sekedar menuntaskan kewajiban saja, jadi maaf, Ada motif orang sholat, yang penting saya sudah sholat, perkara khusyu atau tidak Itu belakangan, diterima atau tidak itu urusan Allah, lambat atau cepat itu perkara lain yang penting saya sudah sholat.
Rumus di tafsir, kalau ada satu kejadian di Qur'an, kalau tidak disebutkan Siapa orangnya, tidak dirinci Kapan kejadiannya, itu artinya kisah dimaksud, akan terjadi di setiap masa dengan tokoh dan nuansa yang berbeda, Jadi sekarang pun, nanti pun, akan didapati orang sholat yang penting sudah sholat, perkara yang lainnya itu terserah dalam topik yang lain.
Sedangkan orang-orang yang berhasil dalam shalatnya, dia mendapati manfaat dari sholatnya diantara manfaat manfaat yang utama, "maka dari sholat yang telah ditunaikan itu," "fazkurullaha" maka bisa mengingatkan dia akan Allah", makanya disebut shalat, berasal dari kata "Silah" , Silah itu berarti ketersambungan yg erat, ikatan yg kuat, makanya ada istilah Silaturrahim, hubungan yang kuat, erat sulit untuk dilepaskan, kalau di bentuk dlm ibadah ritual "silah" berubah menjadi "Sholah", jadi kenapa disebut dengan Shalat?, karena ibadah ini membuat kita untuk tersambung dengan Allah subhanahu wa ta'ala, harusnya orang kalau sudah sholat harusnya dia ingat, "fazkurullaha qiyaman", bahkan di saat berdirinya, selesai shalat dia bangun, dia ingat Allah, jalannya ingat Allah, kemudian "waqu'udan", kemudian duduknya ingat Allah, jadi apapun yg dia lakukan dalam aktivitasnya, apakah itu bekerja, menulis, dia tanda tangan satu hal, dia makan, dia minum, dia ingat Allah, "Wa'alajunubikum", bahkan saat tidurnya pun, dia ingat Allah.

Orang ingat Allah dengan yang tidak ingat Allah itu beda, misalnya Saya mau minum, Ada Si Fulan minum ada Si Fulan minum, ada dua orang minum, orang yang ingat Allah sama-sama minum dengan yang tidak ingat Allah dan fungsi Minuman itu menghilangkan haus Tapi orang yang yg ingat Allah, ketika minum dia akan pastikan minuman yang dia pegang itu Allah Ridho dengan minumannya, karena dia tahu Allah Melihat , Allah Mendengar.
Jadi mustahil orang minum, menyentuh minuman yang tidak disukai Allah, mustahil orang yang kerja tanda tangani proyek yang tidak diridhoi Allah, bahkan mustahil ada orang, baru keluar masjid selesai sholat ingat Allah, bisa tertukar sendal, itu mustahil, buktinya sekarang ada kesempatan di beberapa tempat, orang mau sholat saja masih takut kehilangan sendalnya, padahal orang tersebut kalau ditanya, dia ingat Allah, ada sesuatu yang keliru dalam hal-hal yang di tunaikannnya.
Maksud saya, coba dicek sampai sekian kali sholat yang kita tunaikan sampai hari ini, berapa sholat yang kita kerjakan yang sudah menjadikan kita teringat dengan Allah?.

Sabtu, 28 Januari 2017

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Qiro'atun, hanya sekedar baca saja tapi tidak menuntut kita untuk memahaminya kalau istilah orang kita kan tadarus ya walaupun agak kurang tepat itu istilahnya tadarus tadarus itu sebetulnya bukan baca Tapi belajar memahami isinya, Jadi kalau tadarus Quran belajar al-quran dengan membaca terjemahannya, dipelajari isinya itu tadarus ya.

Jadi itu amalan yang pertama Ya Anda boleh setelah tahajud misalnya Menunggu datangnya Fajar dengan memperbanyak bacaan Quran, sekalipun tidak membaca artinya.

MasyaAllah, Allah sediakan pahala yang melimpah kepada orang yang senang baca Quran, bayangkan, baru sekedar baca saja, Nabi sudah mengatakan, minimal pahalanya 1 huruf itu sepuluh 10 kebaikan, hadistnya Shahih (HR:At-Tirmidzi 2910)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

Itu baru baca, belum lagi memahami artinya kalau ada orang berkata Ya Rasulullah Kalau saya masih belajar huruf nya masih terbata-bata bacaannya Masya Allah Haditsnya di kitab yang sama nomor Hadits 2920 Adapun orang yang terbata-bata saat dia mulai belajar membaca sudah terbata-bata sulit mengeja huruf nya kata Nabi orang ini minimal dapat dua kali pahala orang yang lancar maksudnya setiap kali dia mengulang dia dapet pahala nya.

Nabi sudah sudah menawarkan, Antum tidak lancar saja pahalanya dilipatgandakan kalau dengan semua motivasi itu belum termotivasi juga harus dengan cara apalagi? Pahala Sudah digandakan, kebaikan sudah dilipatgandakan butuh apalagi?

Normalnya setiap muslim itu mesti baca Quran dalam sehari itu mesti baca Quran walaupun satu huruf biasanya satu juz pindah satu surah, biasa satu surah, pindah satu rubu', ga bisa satu rubu', satu 'ain, misalnya sibuk, coba 1 ayat. Satu ayat juga tidak bisa, coba satu huruf, tidak bisa juga? Anda bangun jam 3, anda ambil mushaf, anda liat mushaf, anda tangisi diri anda, tanyakan dosa apa saya Ya Allah.?

Jumat, 27 Januari 2017

Keutamaan Shalat Dhuha

Keutamaan shalat Dhuha yang pertama yaitu adalah shodaqoh yang paling utama terdapat pada Shahih Muslim nomor 720, sedekah itu ada zikir ada tasbih, Tahmid, takbir dan tahlil yang bisa diganti dengan dua rakaat shalat dhuha yang kedua (2) yaitu mencukupkan kebutuhan nya, terdapat di hadis riwayat [Abu Daud nomor 1289] "jangan ditinggalkan 4 rakaat Dhuha dicukupkan kebutuhannya sampai di akhir siang ada mengatakan yaitu Ashar atau Menjelang magrib" , ada perbedaan pendapat soal waktu ini, ada yang menafsirkan maksud dicukupkan disini yaitu : (1) pertama menjaga atau menekan nafsu nya atau keinginannya lebih ke kebutuhannya, yang kedua (2) adalah memberikan pahala sebanyak ibadah di siang itu walaupun tidak bisa melaksanakan di siang itu misalnya shalat sunnah baca Qur'an dzikir dan sebagainya yg ketiga (3) riilnya yaitu rezekinya dimudahkan sampai Menjelang magrib tapi harus ikhtiar juga (QS:Al-Baqarah :168), (Al-Baqarah :172).

Jadikan Setiap Aktivitas Menjadi Ibadah

Terdapat pada Quran surat ke 51 ayat 56
ayat ini adalah ayat yang populer

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menjadikan setiap aktivitasnya menjadi ibadah kepadaku, kalimat "Ins" di situ disebutkan dalam bentuk tunggal bersanding dengan "jin", disebutkan 18 kali dalam Al-Qur'an, artinya, kalau ada di Qur'an diungkapkan dengan bentuk tunggal, maka hukumnya mengikat pada setiap personal, tidak bisa diwakilkan.

contohnya adalah tidur ibadah, bangun tidur kita ibadah, ke toilet ibadah, cuci tangan ibadah, makan ibadah, minum ibadah makanya setiap aktifitas hidup yang kita lakukan ada doanya. di agama lain ga ada, bahkan ke toilet juga diatur langkahnya, masuk kaki kiri, keluar kaki kanan, kalau ke masjid masuk kaki kanan ke luar kaki kiri, jangan kebalik.

Contohnya adalah 2 orang muslim meminum minuman dengan volume yang sama dengan bentuk yang sama Si Fulan dua-duanya muslim, Si Fulan minum begitu saja yang satu lagi mengucapkan bismillah lantas dia minum,  yang satu lagi minum saja. fungsi minum menghilangkan haus dua-duanya Minum sama-sama hilang hausnya, tapi kalimat pertamanya bismillah bernilai ibadah di sisi Allah nilai ini disebut pahala-pahala inilah bekal kita untuk pulang ke akhirat. Ingat, kalau makan minum tanpa niat ibadah, org Non Muslim pun juga bisa ya, jangan sama dengan mereka, apalagi yg tidak jelas status dan Agamanya (tidak mau diatur).

Hati-hati makan-minum tanpa Menyebutkan nama Allah sama saja anda memelihara Syetan, yg bersiap menjerumuskan anda. Anda gemukkan, sehatkan syetan tanpa anda tau.  [Lihat ash-Shahîhah, 708].

Bahkan kata Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, anda tidak hafal doa nya pun cukup sertakan nama Allah di dalamnya jika tidak disebut nama Allah dalam perbuatan "baik", maka terputus nilai ibadahnya.

Ulama dalam Islam

Ulama terdapat pada (QS:35 ayat 28-29) ulama itu bentuk jamak dari kata Alim Jadi kalau Alim itu masih tunggal sifatnya.
Ulama di ukurannya bukan pintar saja, yang pintar itu banyak, sifat yang paling dominan pada ulama yaitu memiliki sifat "KHASYAH"
Ciri-ciri ulama itu yang paling dominan yaitu " YAKHSYALLAHA", dia punya rasa takut yang dalam kepada ALLAH, jd KHASYAH itu rasa takut yang dalam kepada ALLAH.
Jadi nggak sembarangan ya Jadi kalau bicara dia nggak sembarangan bicara dia akan lihat apakah pembicaraan diridhoi ALLAH atau tidak, kemudian, kalau ingin memberikan fatwa, Dia nggak akan sembarangan, kadang istikharah dulu, Doa dulu, bukan karena fatwanya, tapi karena Allah Ridha nggak dengan fatwanya, jadi nggak sembarangan dalam bicara.

Sekarang banyak orang bicara tentang Al Maidah ayat 51, belum tentu yang banyak komentar itu, pernah lihat ayatnya, belum tentu itu. Barangkali belum buka mushaf, ya rame aja, Al Maidah ayat 51, Al Maidah ayat 51.
Alhamdulillah, Allah Tampilkan di lisan setiap orang.

Reporter TV bicara Al Maidah 51, itu belum tentu baca juga, non muslim bicara Al Maidah 51, Alhamdulillah! setiap lisan bicara, tinggal kitanya, diambil nggak itu Petunjuk?, bahkan tukang kaos pun nulis Al Maidah 51, macam-macam itu, semua ada, itu syia'r, syia'r kebaikan yang Allah Tanamkan dalam setiap tanda.
Jadi kalau Anda, maaf ya, diturunkan Allah 1 ayat, untuk mendekatkan anda dengan energi Qur'an, supaya Anda kembali pada tuntunan Allah. Masih juga tidak Acuh dan abai, harus dengan cara apa lagi harus berapa ayat lagi? Agar anda sadar.

disebutkan ada tiga sifat penyampai kebaikan;

(1) Mubaligh
Mubaligh itu artinya "PENYAMPAI"/ yang menyampaikan sesuatu, pesan yang disampaikannya disebut TABLIGH.

Misal anda ketika pulang belajar ttg Tuntunan shalat yg benar misal, kemudian menyampaikan pesan pesan tersebut kepada keluarga atau teman-teman terkait, maka seketika, anda menjadi mubaligh, dan tidak harus pakai peci dulu, Koko dulu ya, Kecuali dalam konteks tertentu ya.

(2) Da'i
Anda sudah mengajak orang, kalau sudah mengajak pada kebaikan maka berubah menjadi Da'i namanya, dan sifatnya disebut dakwah.
Mubaligh beda dengan Dai, kalau Mubaligh, tidak disyaratkan Dia memiliki ilmu khusus untuk menguasai materi
yang disampaikan, yang penting di share pada orang, itu sudah Tabligh namanya, dan dia mendapatkan pahala kebaikan dari situ terdapat pada (HR. Muslim nomor hadis 1893).

Yang mana isinya, Siapa yang menunjukkan suatu kebaikan, kemudian diamalkan oleh orang lain, maka penunjuk ini mendapatkan pahala serupa dengan yang mengamalkan, tanpa dikurangi sedikitpun.

Ini Aneh ya, kalau anda bisa berbuat yang baik-baik, kenapa menulis yang tidak bermanfaat?. Anda bisa Tuliskan yang baik-baik, misal, waktu sholat sekarang  sekitaran Cibiru atau Bandung, Shubuh-nya jam sekian, Dzuhur-nya jam sekian, sampai Isya jam sekian. Itu teman Anda, begitu melihat pesan yang anda tampilkan "Oh iya, saya belum sholat", lalu dia sholat, begitu dia shalat, anda mendapatkan pahala sholatnya tanpa dikurangi sedikitpun.

Jadi, jika anda bisa menulis yang baik-baik, ngapain nulis yg Nggak bermanfaat?, "Duh mendung, duh laper, duh capek" ,  terus kirim, nggak ada kerjaan kan?.

Apalagi nulis yang tidak benar, lihat teman agak beda sedikit, jalan gak nyapa, terus Anda tulis status. Kenapa sih harus curhat kepada orang yang tidak ada urusannya dengan anda?,Kalau anda punya masalah dengan orang tertentu, itu  langsung pada orangnya.
Anda lewat, teman lewat, nggak nyapa Anda, Anda bisa tegur kan? "Assalamualaikum ukhti, kok buru-buru? Daripada anda prasangka yang tidak baik, kan enak kalau seperti itu.

Anda nulis ya," Nggak nyangka dia seperti itu", itu anda sedang NYANGKA itu!.

Terus selanjutnya, Da'i itu kalau ngajak minimal punya ilmu dakwah, walaupun ilmu tentang fiqhnya itu belum dalam.

Jadi syarat Da'i kalau Ngajak orang;

(1) Anda memahami esensi orang yang anda ajak

Misal, Anda ajak orang ke masjid, hal pertama yang harus anda lakukan, anda harus tahu dulu kemuliaan tentang Masjid , baru setelah itu, anda belajar cara mengajak orang lain supaya diterima dengan nyaman, dan dia senang menunaikannya. Terdapat pada (QS:16:125). Jadi kalau belum tahu caranya, lebih baik diam dulu.

Yang pertama itu HIKMAH dulu, pesan itu nomor 2.

Hikmah itu punya dua arti;

(1) Adanya kesesuaian, antara perilaku dan perkataan, Jadi kalau anda ingin ajak orang, anda praktekan dulu, perbaiki diri dulu.
(2) Hikmah itu menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadar nya, jadi beda, Ketika kita menyampaikan sesuatu pada teman-teman kita misalnya, yang berprofesi sebagai pedagang, dengan teman-teman kita yang mungkin ada di jabatan-jabatan tertentu, itu cara bicara kita sudah lain kan?, nggak bisa disamakan.
Misal, anda jadi imam ingin membenarkan shaf, anda harus melihat makmumnya siapa, membenarkan anak kecil dan orang dewasa itu beda caranya.

(3) Alim
Kalau mubaligh dan Dai itu belum ditanya hukum, karena ilmunya hanya untuk mengajak orang, bukan memberikan fatwa. Jadi kalau mau tanya hukum Jangan tanya Da'i atau Mubaligh, bertanyalah hukum itu pada A'lim jamaknya U'lama.

Syarat 'Ulama :

(1) Ilmu Pengetahuan
Harus punya ilmu dulu, itu pasti ya.
(2) Punya sifat Khasyah (Ketakutan yang dalam hanya kepada Allah)

Alim bisa menempatkan ilmu sesuai ridhonya Allah, jadi teman-teman, jangan sembarangan ya, minta pada orang-orang yang mohon maaf, kredibilitasnya saja meragukan, maaf, memang pintar dia dengan Alquran, hadist, ayatnya nomornya, tapi perilaku kesehariannya, tidak membuat kita yakin dia dekat dengan Allah, kata-katanya sering kontroversial, tindakannya kadang-kadang membingungkan, itu jangan dijadikan rujukan, itu berbahaya karena itu, Nabi pernah mengingatkan pada kita akan hadist, terdapat pada (HR. Muslim Nomor 64 halaman 3 paling kiri sebelah atas jilid 1 Dari Abu Hurairah r.a)

Yaitu isi hadistnya, akan muncul di akhir zaman nanti "Dajjaluna Kazzabun" yaitu orang-orang pintar yang sering berdusta, dia akan berbicara pada Anda tentang konsep agama yang membuat Anda kaget, jangankan Anda, orang dulu pun bisa ikutan kaget.

Pernah tiba-tiba ada orang yang bicara, "semua agama itu sama, mempunyai Tuhan yang sama, tapi caranya beda-beda", tiba-tiba juga ada yang mengatakan "al-Maidah itu bukan seperti itu, tapi kesini maknanya" .

Bahasa Nabi tegas sekali, "hati-hati anda dengan mereka, dan mereka itu musuh yg paling bahaya", bukan orangnya, tapi pemikirannya, sikapnya, sifatnya, itu yang bahaya jadi hati-hatilah dalam mengambil rujukan tentang konsep Agama.

Diantara ulama itu ada yang sifatnya Da'i, dan ada ulama yang juga bisa sifatnya menyampaikan atau mubaligh, tapi tidak sedikit juga ulama ini yang mungkin punya keterbatasan dalam menyampaikan sehingga umatnya yang datang kepada ulama tersebut.

Kata ulama itu dibagi 4 bagian;

(1) Ada Ulama Air Hujan,  datang ke mana saja, jangankan bunga yang bagus, rumput pun, dia datangi juga, dalam menyampaikan dakwah dia tidak pilih-pilih jamaah.
(2) Ulama yg seperti mata air, mata air itu nggak bisa pergi, tapi orang datang ke situ mengambil manfaat.
(3) Ulama Air PAM, jadi maaf, kalau nggak dibayar gak keluar itu airnya, Ulama tarifan, terdapat pada (QS: 74 ayat 1-7)
(4) Ulama air Mata, Hanya membuat kita menangis lihat perilakunya,  belum ngajar kita aja, kita udah gak enak, dan yang seperti ini kita doakan, bukan dicela, mendoakan supaya jadi lebih baik Minimal dia bertaubat di akhir hayatnya.

Dzikir Pagi

Dzikir yang Dibaca di Waktu Pagi

(Antara Shubuh hingga siang hari ketika matahari akan bergeser ke barat)
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
[1]HR. Al Hakim (1: 562). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 655.

Membaca ayat Kursi
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255) (Dibaca 1 x)
Faedah: Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.[1]
[2]HR. Abu Daud no. 5082, Tirmidzi no. 3575. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)
Faedah: Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya.[2]
[3]HR. Muslim no. 2723. Lihat keterangan Syarh Hisnul Muslim, hal. 161.

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya:

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Meminta pada Allah kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di hari ini dan kejelekan sesudahnya. Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua. Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.[3]
[4]HR. Tirmidzi no. 3391 dan Abu Daud no. 5068. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Artinya:

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)[4]
[5]HR. Bukhari no. 6306.

Membaca Sayyidul Istighfar
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya:

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.[5]
[6]HR. Abu Daud no. 5069. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ
Allahumma inni ash-bahtu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.
Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa neraka.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari. Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah.[7]HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

[8] HR. Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi).

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.
Artinya:

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur.[8]
[9] HR. Abu Daud no. 5088, 5089, Tirmidzi no. 3388, dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya:

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba memudaratkannya.[9]
[10] HR. Abu Daud no. 5072, Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya:

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah. [10]
[11] HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro (381/ 570), Al Bazzar dalam musnadnya (4/ 25/ 3107), Al Hakim (1: 545). Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227.

أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.
Artinya:

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang. [11]
[12] HR. Ahmad (3: 406). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. Lihat pula As Silsilah Ash Shahihah no. 2989.

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin
Artinya:

“Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas (kalimat syahadat), agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (Dibaca 1 x di pagi hari saja)[12]
[13] HR. Muslim no. 2692.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih.
Artinya:

“Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu.[13]
[14] HR. An Nasai Al Kubra 6: 10.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 1o x)
Faedah: Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula.[14]
[15] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 100 x dalam sehari)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu.[15] 
[16] HR. Muslim no. 2726.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.
Artinya:

“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca 3 x di waktu pagi saja)
Faedah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Juwairiyah bahwa dzikir di atas telah mengalahkan dzikir yang dibaca oleh Juwairiyah dari selepas Shubuh sampai waktu Dhuha. [16]
[17] HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca 1 x setelah salam dari shalat Shubuh)[17]
[18] HR. Bukhari no. 6307 dan Muslim no. 2702.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Artinya:

“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” (Dibaca 100 x dalam sehari)[18]